Udah dewasa?
Tahun 2019 merupakan tahun dimana semua anak kelahiran 98 menginjak kepala dua, berubah kepala usia dari yang tadinya 1 alias belasan tahun menjadi 20 tahunan. Tidak ada yang spesial sebetulnya, hanya saja kita pasti dianggap sudah cukup dewasa untuk menjalani kehidupan kedepannya. Padahal dalam hati, kita tak lebih dari anak remaja dengan angka usia yang berkepala dua.
Dari apa yang aku rasakan, saat ini mulai banyak pemikiran yang muncul. Bukan hanya pemikiran yang berasal dari dalam hati sendiri, most of it berasal dari lingkungan sekitar kita. Kalau udah banyak tekanan gini rasanya pengen balik lagi ke jaman SD atau TK hahaha.
Secara ga sadar sebenernya pemikiran atau tekanan yang kita rasain sekarang ini tercipta atas lingkungan sosial kita yang selalu sibuk mengurusi hidup orang lain. Pertanyaan-pertanyaan kecil yang mungkin dianggap sepele oleh yang bertanya, bisa jadi menjadi suatu bencana bagi orang lain yang menerimanya. Misalnya saja jika ditanya kapan lulus?kok ga selesai-selesai sih kuliahnya? dalam benak orang lain mungkin seseorang yang berkuliah namun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan studinya, mungkin saja itu karena ia adalah anak yang pemalas dan hanya menyusahkan orang tuanya karena membayar biaya kuliah lebih lama lagi. Tapi kita sebagai orang luar hanya bisa berasumsi, kita hanya bertanya untuk sekedar "kepo" dan bukan benar-benar ingin mengetahui duduk permasalahan yang dihadapi oleh orang tersebut.
Pernah suatu ketika aku bertanya pada saudara sepupu ku yang sudah hampir 6 tahun berkuliah dan tak kunjung menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan segera menyelasaikan tugas akhir skripsinya. Sudah pasti dalam setiap kumpul keluarga, dia menjadi salah satu bahan pembicaraan yang tidak pernah absen diperbincangkan. Karena penasaran, akhirnya saat kami berdua aku bertanya kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga ia tak kunjung menyelesaikan kuliah nya, dan menurutku dia anak yang baik dan pintar.
Setelah melakukan perbincangan itu akhirnya aku mengetahui bahwa ada beberapa alasan yang membuatnya kesulitan untuk segera menyelesaikan skripsi nya. Sebagai salah satu anak perempuan yang berasal dari keluarga yang dapat dikatakan kurang mampu, sewaktu kecil ia sering sekali mengalami peritiwa bullying dari teman-temannya dan yang lebih parah dari saudara dan bibinya sendiri, tak terhitung sudah berapa kali ia menangis karena menerima ucapan tak pantas dari orang lain. Hal itu menjadi awal mula ketidak percayaan dirinya padahal ia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan pintar.
Setelah berhasil menahan dan melewati masa itu sampai di bangku perkuliahan, saat itu terjadi peristiwa yang terulang kembali. Saat semester akhir dia mendapatkan dosen pembimbing yang dapat dikatakan kurang sesuai dengan dirinya, pernah sekali dia mendapat bentakan dan dikatakan bodoh didepan banyak orang, lalu ia mulai menangis bahkan sampai takut untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Hal itu menjadi permulaan mengapa ia tidak memulai mengerjakan skripsinya, selain itu permasalahan kedua adalah ia tidak berasal dari keluarga yang kemampuan finansialnya baik sehingga ia selain harus berkuliah namun juga harus mencari uang untuk menutupi biaya hidup dan kuliahnya. Setelah sadar bahwa ada masalah psikologis dalam dirinya, ia menghubungi temannya yang memang ahli dalam bidang psikologis, akhirnya ia mendapatkan terapi dan menerima obat-obatan agar dirinya dapat pulih kembali.
Sekarang dia sudah berhasil menamatkan bangku kuliahnya, namun tetap saja beberapa orang tetap abai akan permasalahan yang membuat ia terhambat menyelesaikan bangku kuliahnya kemarin. Untungnya ia tetap semangat dan dapat menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik.
Gaada orang lain yang bener-bener tau tentang apa yang kita lalui, hanya diri kita sendiri, keluarga dan teman terdekat kita. Mereka itulah yang akan terus memberikan semangat dan motivasi agar kita terus melangkah maju, selain itu kita harus percaya pada diri kita sendiri bahwa kita mampu dan pasti dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang kita hadapi. Berat memang bila mendapat kan pertanyaan yang terasa seperti tekanan dari lingkungan luar. Namun tidak ada yang bisa kita lakukan selain cuek dan bersikap bodo amat, serta tetap fokus pada tujuan hidup kita. Jangan biarkan pendapat orang lain membuat kita merasa bodoh atau salah atau mungkin membuat kita berniat untuk mengganti jalan hidup kita sendiri. Kita hidup untuk diri kita sendiri, bukan untuk teman kita, bukan untuk orang lain. Jadi selama apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain, biarlah mereka berkata apapun. Hal itu yang sampai saat ini juga masih belajar aku tanam untuk diriku sendiri.
God bless you all :)
Dari apa yang aku rasakan, saat ini mulai banyak pemikiran yang muncul. Bukan hanya pemikiran yang berasal dari dalam hati sendiri, most of it berasal dari lingkungan sekitar kita. Kalau udah banyak tekanan gini rasanya pengen balik lagi ke jaman SD atau TK hahaha.
Secara ga sadar sebenernya pemikiran atau tekanan yang kita rasain sekarang ini tercipta atas lingkungan sosial kita yang selalu sibuk mengurusi hidup orang lain. Pertanyaan-pertanyaan kecil yang mungkin dianggap sepele oleh yang bertanya, bisa jadi menjadi suatu bencana bagi orang lain yang menerimanya. Misalnya saja jika ditanya kapan lulus?kok ga selesai-selesai sih kuliahnya? dalam benak orang lain mungkin seseorang yang berkuliah namun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan studinya, mungkin saja itu karena ia adalah anak yang pemalas dan hanya menyusahkan orang tuanya karena membayar biaya kuliah lebih lama lagi. Tapi kita sebagai orang luar hanya bisa berasumsi, kita hanya bertanya untuk sekedar "kepo" dan bukan benar-benar ingin mengetahui duduk permasalahan yang dihadapi oleh orang tersebut.
Pernah suatu ketika aku bertanya pada saudara sepupu ku yang sudah hampir 6 tahun berkuliah dan tak kunjung menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan segera menyelasaikan tugas akhir skripsinya. Sudah pasti dalam setiap kumpul keluarga, dia menjadi salah satu bahan pembicaraan yang tidak pernah absen diperbincangkan. Karena penasaran, akhirnya saat kami berdua aku bertanya kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga ia tak kunjung menyelesaikan kuliah nya, dan menurutku dia anak yang baik dan pintar.
Setelah melakukan perbincangan itu akhirnya aku mengetahui bahwa ada beberapa alasan yang membuatnya kesulitan untuk segera menyelesaikan skripsi nya. Sebagai salah satu anak perempuan yang berasal dari keluarga yang dapat dikatakan kurang mampu, sewaktu kecil ia sering sekali mengalami peritiwa bullying dari teman-temannya dan yang lebih parah dari saudara dan bibinya sendiri, tak terhitung sudah berapa kali ia menangis karena menerima ucapan tak pantas dari orang lain. Hal itu menjadi awal mula ketidak percayaan dirinya padahal ia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan pintar.
Setelah berhasil menahan dan melewati masa itu sampai di bangku perkuliahan, saat itu terjadi peristiwa yang terulang kembali. Saat semester akhir dia mendapatkan dosen pembimbing yang dapat dikatakan kurang sesuai dengan dirinya, pernah sekali dia mendapat bentakan dan dikatakan bodoh didepan banyak orang, lalu ia mulai menangis bahkan sampai takut untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Hal itu menjadi permulaan mengapa ia tidak memulai mengerjakan skripsinya, selain itu permasalahan kedua adalah ia tidak berasal dari keluarga yang kemampuan finansialnya baik sehingga ia selain harus berkuliah namun juga harus mencari uang untuk menutupi biaya hidup dan kuliahnya. Setelah sadar bahwa ada masalah psikologis dalam dirinya, ia menghubungi temannya yang memang ahli dalam bidang psikologis, akhirnya ia mendapatkan terapi dan menerima obat-obatan agar dirinya dapat pulih kembali.
Sekarang dia sudah berhasil menamatkan bangku kuliahnya, namun tetap saja beberapa orang tetap abai akan permasalahan yang membuat ia terhambat menyelesaikan bangku kuliahnya kemarin. Untungnya ia tetap semangat dan dapat menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik.
Gaada orang lain yang bener-bener tau tentang apa yang kita lalui, hanya diri kita sendiri, keluarga dan teman terdekat kita. Mereka itulah yang akan terus memberikan semangat dan motivasi agar kita terus melangkah maju, selain itu kita harus percaya pada diri kita sendiri bahwa kita mampu dan pasti dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang kita hadapi. Berat memang bila mendapat kan pertanyaan yang terasa seperti tekanan dari lingkungan luar. Namun tidak ada yang bisa kita lakukan selain cuek dan bersikap bodo amat, serta tetap fokus pada tujuan hidup kita. Jangan biarkan pendapat orang lain membuat kita merasa bodoh atau salah atau mungkin membuat kita berniat untuk mengganti jalan hidup kita sendiri. Kita hidup untuk diri kita sendiri, bukan untuk teman kita, bukan untuk orang lain. Jadi selama apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain, biarlah mereka berkata apapun. Hal itu yang sampai saat ini juga masih belajar aku tanam untuk diriku sendiri.
God bless you all :)
Komentar
Posting Komentar