Covid dan Isoman
Sudah pukul 6 sore, saatnya mematikan laptop dan menyelesaikan wfh di hari ini.
Setelah sekian lama tidak bercerita, rasanya ingin menceritakan sedikit keresahan saat terkena covid dan melakukan isolasi mandiri yang belum lama terjadi.. Supaya menjadi pengingat agar kedepannya lebih taat pada protokol kesehatan, dan tetap harus lebih waspada lagi..Jadi tepat tangal 27 Juni 2021, mama dinyatakan positif covid setelah sebelumnya demam disertai gejala flu berat serta masing-masing dari kami merasa ada yg aneh karena tiba-tiba ikut demam dan pegal serempak padahal sebelumnya tidak melakukan aktivitas keluar rumah.. Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter, dan di test antigen dengan hasil positif, kami harus langsung isoman sesuai anjuran dokter. Sudah tidak tau harus bingung kaget atau apa. Karena melihat kondisi di lingkungan sekitar yang memang makin parah, dan banyak juga tetangga yang terkena covid.
Kami melakukan pemeriksaan ke dokter di malam hari, setelah menerima resep dan ada beberapa obat yg harus dibeli, maka kami saat itu juga langsung bergegas ke apotik, berharap semua obat langsung kaki dapatkan. Nyatanya tidak semudah yg kami bayangkan, obat-obatan sudah habis, bahkan setelah mendatangi 3 apotek kami hanya dapat menemukan 1 dari 3 obat.. Rasanya panik dan cemas, karena kebingungan harus dapat dimana obat yg lainnya tapi menurut salah satu apoteker, kami dapat membelinya di satu apotik yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Karena sudah malam dan lelah, mungkin karena kaget juga dinyatakan positif covid, kami memutuskan pulang kerumah, beristirahat, lalu mempersiapkan segala sesuatu dirumah agar bisa tetap prokes dengan harapan semuanya akan baik-baik saja.
Kami langsung melaporkan ke RT bahwa kami harus Isoman dengan melampirkan hasil test positif. Berharap data yang kami kirimkan segera sampai ke puskesmas sehingga di data dan dapat di kontrol oleh pihak puskesmas.
Sesampainya dirumah pada malam itu kami langsung mempersiapkan masker untuk kami pakai, handsanitizer, mencatat vitamin apa saja yang harus kami konsumsi dll.
Covid sangat membahayakan dan mengerikan, semuanya pasti tau itu. Dan memang benar, keesokannya mama dan papa terkulai lemas, demam, mual. Untungnya oxymeter sudah dimiliki, tak henti-hentinya kami gunakan untuk mengecek saturasi oksigen masing-masing. Takut, cemas sudah dirasakan setiap hari. Takut akan sesuatu hal buruk terjadi, ah jangan sampai, hanya bisa berdoa saja saat itu..
Tapi tidak ada waktu bersedih atau panik terlalu lama, harus selalu menyemangati dan menghibur mama papa supaya semangat lagi dan cepet pulih. Rasanya ga pernah seumur hidup melihat mereka se lemas itu karena sakit, sedih sekali melihatnya..
Satu hal yang kami syukuri, support orang-orang sekitar yang sangat baik. Mengirimkan makanan, buah-buahan, susu, telur, obat, vitamin, dan kebutuhan pokok lainnya. Sangat bersyukur akan hal itu, karena tidak sempat untuk masak, bergerak sedikit saja sudah lemas dan napas terasa berat.
Hari berangsur mendekati habisnya masa isoman kami, semuanya mulai nampak membaik, semuanya mulai dapat berbicara dan bercanda kembali. Kami semua sehat, kami masih diberi kesempatan untuk bertahan hidup di dunia. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan YME, tapi juga bersedih karena tidak henti-hentinya mendengar kabar duka dari kerabat terdekat. Kami takut, sedih tapi juga bersyukur. Berterimakasih kepada semua orang yg sudah mensupport untuk bisa sembuh, bahkan rasanya ditanya keadaan saja sudah membuat kami bersemangat.
Sekarang semuanya sudah dalam keadaan yang baik baik saja. Alhamdulillah..
Mengingatnya kembali membuat ku merasa napas yg seketika menjadi berat.
Saat ini kami hanya berharap semoga semua yg sakit dapat segera pulih, semoga yang ditinggalkan dapat lebih tabah lagi, semoga yang pergi dapat diterima dengan baik di sisi-Nya, dan semoga pandemi ini dapat segera berakhir.. Aamiin
Tetap jaga kesehatan semuanya..
-dari penyintas covid yang sedang berbaring menikmati waktu malamnya
Komentar
Posting Komentar